Langsung ke konten utama

Postingan

Bulu Tangkis dan Tutup Panci Ibu

Menyaksikan kedua anak sedang bermain bulu tangkis atau badminton itu, membuat pikiranku kembali terbang ke peristiwa belasan tahun yang lalu. Waktu itu, hampir setiap halaman rumah di kampungku dipenuhi dengan anak-anak bermain bulu tangkis. Kami bermain secara bergantian. Dua orang bermain, dan satu orang atau lebih bertugas menghitung skor sampai 30 atau lebih. Setiap yang kalah akan digantikan dengan teman yang menghitung skor. Dan akan berganti sampai semua dapat. Jika anak-anak sekarang bermain bulu tangkis dengan menggunakan raket, dulu kami hanya menggunakan tutup panci sebagai alat pemukul atau pengganti raket. Sedangkan bulu dibeli dengan cara berkongsi. Jika sedang tidak ada penjual, kami menggunakan kalongkong--kelapa kecil seukuran kepalan tangan anak usia satu tahun--yang gugur dari pohonnya. Saat itu, raket hanyalah milik kalangan orang-orang elite. Harganya mengalahkan jajan kami selama seminggu. Wkwk Walau hanya dengan alat-alat sederhana, kami bermai...

Di Sebuah Restoran

“Orang-orang kelaparan” datang ke restoran dengan perut meronta-ronta. Keluar dari mobil mewah. Berjalan menghampiri lift. Masuk ke dalam kotak besi itu. Memencet tombol dua. Menunggu pintu kotak besi itu terbuka. Berjalan mendekati salah satu meja. Pelayan datang membawakan daftar menu. Mengambil daftar menu. Matanya memelototi gambar-gambar yang menggiyurkan. Menyebutkan nama-nama makanan yang diinginkannya. Sesekali bertanya kepada pelayan. Berbincang dengan “orang kelaparan” yang ada di kiri-kanannya.  Memastikan pesanan. Menunggu pesanan. Makanan yang menggiurkan datang. Mengeluarkan wangi sedap. Menanti disantap. “Orang-orang kelaparan” mengoyak-oyak daging ikan, cumi-cumi, udang, kepiting. Menyendoknya. Memasukkan ke mulutnya. Menuju ke kerongkongannya. Jatuh ke lambungnya. Dan kenyang..... Mereka menjelma menjadi “orang-orang kekenyangan”. Meninggalkan makanan yang sudah tidak bisa lagi dikunyahnya. Lalu menuju ke kasir. Mengeluarkan ATM, yang di dalamnya tersimpan duit. Di...

Dendam Untuk Para Sarjana

Satu per satu wisudawan memasuki Gelanggang Olahraga (GOR) Unhas. Para keluarganya menunggu di luar gedung itu. Menyambut putra-putri mereka yang baru saja meraih kemenangannya. Menjadi wisudawan dengan gelar baru, sarjana dan alumni. Tak hanya keluarga, para sahabat dan teman-temannya pun menunggu untuk merayakan hari bahagia itu. Seperti juga aku yang menunggu keluarnya Ayi dari sekumpulan orang-orang yang mengenakan toga itu. Aku mengamati diam-diam ekspresi bahagia yang terpancar dari setiap orang yang memakai toga. Mereka disambut gembira oleh keluarga dan teman-temannya. Poster-poster selamat yang menampilkan foto dan nama mereka terpampang di mana-mana. Betapa irinya hatiku melihat sekumpulan orang-orang itu. Sialnya lagi, aku tak bisa lari dari sini. Keadaan memaksaku harus datang ke tempat ini, memberi selamat untuk sahabatku, Ayi. Aku mencari-cari keberadaan Ayi. Sudah setengah jam aku berdiri menunggu di tempat yang telah disepakati, namun ia tak kunjung datang jua....

Resensi buku Tuhan Maha Romantis

Dikisahkan seorang pemuda bernama Rijal Rafsanjani, anak tunggal dari keluarga yang cukup terhormat di kampung halamannya, Bandar Harapan. Ayahnya adalah seorang kepala sekolah di Yayasan An-Nur. Ibunya seorang guru bahasa inggris. Setelah menamatkan pendidikan SMA-nya, Rijal akhirnya diterima di Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Indonesia (UI). Namun, ia sempat dilema untuk melanjutkan pendidikan, lantaran tak tega meninggalkan kedua orang tuanya di kampung. Nasehat-nasehat bapaknya, yang juga seseorang yang paling dikaguminya, menguatkannya untuk melanjutkan pendidikan tersebut. Sebelum resmi diterima sebagai status mahasiswa sesungguhnya, Rijal ditemani A'Nda, anak Pak Wawan, sahabat baik bapaknya, jalan-jalan mengelilingi kampus UI. Setelah mengitari beberapa tempat di UI, ia akhirnya memilih untuk jalan-jalan ke fakultasnya sendiri. Di sana ia melihat segerombolan mahasiswa yang tengah berlatih puisi. Ia terpikat saat melihat penampilan salah seorang mahasisw...

Memahami

Setiap orang selalu ingin dipahami, namun ia sendiri tak mau memahami orang lain. Ya, begitulah kita manusia. Seringkali kalap dalam bersikap. Hingga baru kemudian sadar setelah kita menyakiti hati orang lain. Manusia memang sejatinya tak pernah jauh dari kesalahan, karenanya tidak ada manusia yang sempurna. Kendati, kita selalu punya hati nurani untuk belajar dari kesalahan, bukan? Ya, kita bisa meminimalisir kesalahan itu dengan belajar memahami orang lain. Ada istilah yang mengatakan, kalau mau dipahami, kau harus pahami dulu orang lain. Sifat memahami memang penting dimiliki setiap orang. Coba saja kalau misalnya semua orang  hanya mengandalkan sifat ego dalam menjalani hidup, tentulah dunia akan jauh dari kata damai. Sifat individualistik pun akan melonjak, dan pada akhirnya tidak ada rasa saling tolong-menolong. Interaksi sosial pun tidak terbangun dengan baik. Kemampuan memahami manusia berbeda-beda. Ada yang selalu belajar menjaga mulutnya saat bicara, karena ia taku...

Pilih Yang Mana?

Dua minggu yang lalu, saya rihat dari bermain sosial media (kecuali whatsapp). Akun instagramku bahkan kuhapus. Selain itu, beberapa aplikasi sosial media seperti facebook dan line juga ikut kuhapus pada gawaiku. Mungkin teman-teman bertanya, mengapa hanya aplikasi whatsapp saja yang bertahan? Karena segala informasi  yang penting hanya ada di situ, tempat saya bisa melihat info seputar mata kuliah dan penugasan redaksi. Saat itu, saya sengaja menarik diri dari media sosial. Semula  berawal saat saya  membaca kolom Prof Anwar Arifin yang diterbitkan di Koran Identitas Edisi Januari lalu. Inti dari keseluruhan yang bisa saya tangkap dari tulisan tersebut bahwa ternyata sosial media dapat menurunkan minat baca kita. Padahal membaca sangatlah penting untuk kita budayakan dalam kehidupan sehari-hari. Telah kita ketahui bahwa membaca dapat meningkatkan wawasan kita, dan tentu saja mengasah cara berpikir. Selain itu, membaca juga dapat memperbanyak pembendaharaan kata, sehing...

Bukan (hanya) Rindu yang Berat, Tetapi...

“Jangan rindu, berat! kamu gak akan kuat, biar aku saja” kata Dilan, Sepenggal kalimat yang dilontarkan Iqbal Ramadhan, (pemeran Dilan) dalam film Dilan 1990 yang lagi booming di sejumlah bioskop saat ini, mungkin ada benarnya. Setali tiga uang dengan menunggu. Rindu dan menunggu keduanya merupakan pekerjaan berat meski tak membutuhkan tenaga ekstra. Sekarang, ada lagi satu kata yang tidak sekadar berat tapi juga menakutkan. Di dunia jurnalistik, kata ini tidaklah asing. “Deadline”, semua yang terlibat di penerbitan media pasti mengenalnya. Death berarti mati dan Line berarti garis. Deadline sendiri di dunia jurnalistik dimaknai sebagai batas akhir pemasukan naskah. Melewatinya berarti mati. Jadi, melanggarnya akan dimaki-maki oleh pimpinan media. Pernah suatu ketika kami didamprat habis-habisan oleh Koordinator Liputan (Korlip) gara-gara melanggar  deadline . Pelanggaran yang sebenarnya tidak bisa dikenakan ke saya, tetapi karena kerja kolektif, terpaksa harus kuter...