Satu per satu wisudawan memasuki
Gelanggang Olahraga (GOR) Unhas. Para keluarganya menunggu di luar gedung itu. Menyambut putra-putri mereka yang baru saja meraih kemenangannya. Menjadi
wisudawan dengan gelar baru, sarjana dan alumni. Tak hanya keluarga, para
sahabat dan teman-temannya pun menunggu untuk merayakan hari bahagia itu.
Seperti juga aku yang menunggu keluarnya Ayi dari sekumpulan orang-orang yang
mengenakan toga itu.
Aku mengamati diam-diam ekspresi
bahagia yang terpancar dari setiap orang yang memakai toga. Mereka disambut
gembira oleh keluarga dan teman-temannya. Poster-poster selamat yang
menampilkan foto dan nama mereka terpampang di mana-mana. Betapa irinya hatiku
melihat sekumpulan orang-orang itu. Sialnya lagi, aku tak bisa lari dari sini.
Keadaan memaksaku harus datang ke tempat ini, memberi selamat untuk sahabatku,
Ayi.
Aku mencari-cari keberadaan Ayi.
Sudah setengah jam aku berdiri menunggu di tempat yang telah disepakati, namun
ia tak kunjung datang jua. Aku menelponnya berkali-kali. Sial, telponnya sedang
tidak aktif. Ahh.. Ayi, kemana dirimu? Aku sudah ingin lari dari tempat ini.
Tempat ini terlalu menyakitkan bagi orang gagal sepertiku.
Kunamai diriku sebagai orang
gagal. Gagal mengambil hati Pembimbing Akademikku (PA). Karenanya, aku tak bisa
menyelesaikan seminar akhir yang tinggal sedikit lagi. Hingga pada akhirnya,
selama hampir tujuh tahun berkuliah, aku harus menerima Surat Keputusan Rektor
berisi pernyataan Drop Out.
PA-ku memang tak bisa merubah
keputusannya untuk meluluskanku pada mata kuliahnya sendiri. Ia berang, karena
masih ada dua mata kuliah yang belum kuselesaikan. Aku meminta untuk tutup
strata mata kuliah itu, namun ia tetap bersikeras tidak meloloskanku.
Pembimbing akademikku memang
dikenal sebagai dosen killer. Ia terlalu bapakisme dalam mengajar. Tak bisa
dibantah pendapatnya. Sedangkan aku tak bisa menerima ilmu yang disampaikan
dosen-dosen begitu saja. Kebanyakan mereka terlalu mendoktrin dengan
teori-teori yang dipahaminya saja. Karenanya, aku dianggap pembangkang. Hingga
sebagian dari mereka kadang kali tak meloloskanku pada mata kuliahnya.
Pakkk… seseorang memukul
punggungku dari belakang. Sontak aku kaget. Gila, si Riri, adik kelasku yang
paling cerewet. Ia pasti mengolok-olokku karena belum juga wisuda di semester
ini. Ia memang belum tahu kalau sebenarnya Unhas sudah mengeluarkanku dari
sini.
“Halo kak! Baik-baik jaki?”
katanya sambil ketawa. Kampret, ia memang paling hobi menyindirku. Ingin
kujitak kepalanya. Tapi kali ini ia beruntung, ibunya sedang bersamanya. Aku
hanya tersenyum membalas pertanyaannya. “Wahh Riri. Wisudawan terbaik dih?
Selamat nah!” kataku dengan nada yang gembira. Padahal itu hanya kamuflase. Aku
harus tegar di depan adik kelasku ini. “Iya dong kak,” katanya. Ia lalu
mengajakku berfoto. Sumpah! Ini hal yang paling kubenci seumur hidup, berfoto
dengan wisudawan. Tapi yah sudah, ikutin aja deh si cerewet ini. Aku sudah
malas melihat mukanya.
Aku kembali menelpon Ayi.
Lagi-lagi nomornya tidak aktif. Bikin naik pitam saja itu anak. Dia sendiri
yang bilang tadi bakal menemuiku setelah wisuda. Aku curiga, jangan-jangan ia
sedang berlama-lama dengan calon tunangannya, atau berfoto bersama teman-teman
yang lainnya. Ahh, kujitak nanti kepalanya kalau ketemu.
Setelah menunggu lebih dari satu
jam, aku akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah saja. Aku berharap semoga saja
tidak bertemu dengan wisudawan yang lainnya. Mereka seperti belati yang
mencincang hatiku dengan kalap. Di antara buku-buku dan kopi hangat, aku menuntaskan
segala kesedihan hari ini. Aku berpikir untuk kembali memulai usaha
perikananku. Usaha yang pernah dibanggakan dosen-dosen itu di depan para adik
kelasku yang kini menyandang gelar sarjana itu. Aku bersumpah! Aku pasti bisa
mempekerjakan mereka di perusahaanku nanti. Aku akan menjadi bos untuk para
orang-orang yang bergelar sarjana perikanan itu. Anggap saja ini sebagai
pembalasan dendam terbaikku.
cerpen ini telah diterbitkan di website Identitas Unhas.com dan koran Identitas Unhas Edisi September 2018.
Keren
BalasHapusTerima kasih Ferdinan :)
HapusSuguhan menarik agar kita berjuang...Namun, persoalannya skrang adalh bnyak wisudawan/ti hnya menumpuk ijazah tapi tdak mempunyai kreativitas brpikir independen
BalasHapuskeren!!
BalasHapus