Menyaksikan kedua anak sedang bermain bulu tangkis atau badminton itu, membuat pikiranku kembali terbang ke peristiwa belasan tahun yang lalu. Waktu itu, hampir setiap halaman rumah di kampungku dipenuhi dengan anak-anak bermain bulu tangkis. Kami bermain secara bergantian. Dua orang bermain, dan satu orang atau lebih bertugas menghitung skor sampai 30 atau lebih. Setiap yang kalah akan digantikan dengan teman yang menghitung skor. Dan akan berganti sampai semua dapat. Jika anak-anak sekarang bermain bulu tangkis dengan menggunakan raket, dulu kami hanya menggunakan tutup panci sebagai alat pemukul atau pengganti raket. Sedangkan bulu dibeli dengan cara berkongsi. Jika sedang tidak ada penjual, kami menggunakan kalongkong--kelapa kecil seukuran kepalan tangan anak usia satu tahun--yang gugur dari pohonnya. Saat itu, raket hanyalah milik kalangan orang-orang elite. Harganya mengalahkan jajan kami selama seminggu. Wkwk Walau hanya dengan alat-alat sederhana, kami bermai...