Menyaksikan kedua anak sedang bermain bulu tangkis atau badminton itu, membuat pikiranku kembali terbang ke peristiwa belasan tahun yang lalu.
Waktu itu, hampir setiap halaman rumah di kampungku dipenuhi dengan anak-anak bermain bulu tangkis. Kami bermain secara bergantian. Dua orang bermain, dan satu orang atau lebih bertugas menghitung skor sampai 30 atau lebih. Setiap yang kalah akan digantikan dengan teman yang menghitung skor. Dan akan berganti sampai semua dapat.
Jika anak-anak sekarang bermain bulu tangkis dengan menggunakan raket, dulu kami hanya menggunakan tutup panci sebagai alat pemukul atau pengganti raket. Sedangkan bulu dibeli dengan cara berkongsi. Jika sedang tidak ada penjual, kami menggunakan kalongkong--kelapa kecil seukuran kepalan tangan anak usia satu tahun--yang gugur dari pohonnya. Saat itu, raket hanyalah milik kalangan orang-orang elite. Harganya mengalahkan jajan kami selama seminggu. Wkwk
Walau hanya dengan alat-alat sederhana, kami bermain dengan hati gembira. Beberapa menit bermain, keringat akan bercucuran di kening hingga membuat baju kami basah. Kadang kali menguras emosi saat partner bermain curang. Kendati, permainan akan tetap berjalan selama ibu tidak melihat kami bermain. Jika ibu sudah memanggil, kami akan merasa sangat was-was. Tahu kau mengapa? Karena ibu-ibu biasanya akan mengomel panjang lebar jika telah mencuci beras dan ternyata tutup pancinya hilang.
Tutup panci yang kembali ke rumah biasanya pulang dengan bentuk tak lagi utuh. Benturan kalongkong yang keras membuat aluminium itu harus benjol. Jika sudah begitu, ibu-ibu akan menyimpan tutup pancinya di tempat yang sulit digapai oleh anak-anak seusia kami dulu.
Kini, kami bermain bulu tangkis dengan raket dan bulu tangkis seperti yang dipakai kalangan elite dulu. Kami menikmatinya, tetapi mungkin sensasinya tidak seseru dulu. Membuat kita harus melompat lebih tinggi untuk menangkis bulunya. Atau membuat ibu harus memburu kami kemana-mana jika tutup pancinya hilang. Hahaha.

Komentar
Posting Komentar