Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2018

Dendam Untuk Para Sarjana

Satu per satu wisudawan memasuki Gelanggang Olahraga (GOR) Unhas. Para keluarganya menunggu di luar gedung itu. Menyambut putra-putri mereka yang baru saja meraih kemenangannya. Menjadi wisudawan dengan gelar baru, sarjana dan alumni. Tak hanya keluarga, para sahabat dan teman-temannya pun menunggu untuk merayakan hari bahagia itu. Seperti juga aku yang menunggu keluarnya Ayi dari sekumpulan orang-orang yang mengenakan toga itu. Aku mengamati diam-diam ekspresi bahagia yang terpancar dari setiap orang yang memakai toga. Mereka disambut gembira oleh keluarga dan teman-temannya. Poster-poster selamat yang menampilkan foto dan nama mereka terpampang di mana-mana. Betapa irinya hatiku melihat sekumpulan orang-orang itu. Sialnya lagi, aku tak bisa lari dari sini. Keadaan memaksaku harus datang ke tempat ini, memberi selamat untuk sahabatku, Ayi. Aku mencari-cari keberadaan Ayi. Sudah setengah jam aku berdiri menunggu di tempat yang telah disepakati, namun ia tak kunjung datang jua....

Resensi buku Tuhan Maha Romantis

Dikisahkan seorang pemuda bernama Rijal Rafsanjani, anak tunggal dari keluarga yang cukup terhormat di kampung halamannya, Bandar Harapan. Ayahnya adalah seorang kepala sekolah di Yayasan An-Nur. Ibunya seorang guru bahasa inggris. Setelah menamatkan pendidikan SMA-nya, Rijal akhirnya diterima di Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Indonesia (UI). Namun, ia sempat dilema untuk melanjutkan pendidikan, lantaran tak tega meninggalkan kedua orang tuanya di kampung. Nasehat-nasehat bapaknya, yang juga seseorang yang paling dikaguminya, menguatkannya untuk melanjutkan pendidikan tersebut. Sebelum resmi diterima sebagai status mahasiswa sesungguhnya, Rijal ditemani A'Nda, anak Pak Wawan, sahabat baik bapaknya, jalan-jalan mengelilingi kampus UI. Setelah mengitari beberapa tempat di UI, ia akhirnya memilih untuk jalan-jalan ke fakultasnya sendiri. Di sana ia melihat segerombolan mahasiswa yang tengah berlatih puisi. Ia terpikat saat melihat penampilan salah seorang mahasisw...

Memahami

Setiap orang selalu ingin dipahami, namun ia sendiri tak mau memahami orang lain. Ya, begitulah kita manusia. Seringkali kalap dalam bersikap. Hingga baru kemudian sadar setelah kita menyakiti hati orang lain. Manusia memang sejatinya tak pernah jauh dari kesalahan, karenanya tidak ada manusia yang sempurna. Kendati, kita selalu punya hati nurani untuk belajar dari kesalahan, bukan? Ya, kita bisa meminimalisir kesalahan itu dengan belajar memahami orang lain. Ada istilah yang mengatakan, kalau mau dipahami, kau harus pahami dulu orang lain. Sifat memahami memang penting dimiliki setiap orang. Coba saja kalau misalnya semua orang  hanya mengandalkan sifat ego dalam menjalani hidup, tentulah dunia akan jauh dari kata damai. Sifat individualistik pun akan melonjak, dan pada akhirnya tidak ada rasa saling tolong-menolong. Interaksi sosial pun tidak terbangun dengan baik. Kemampuan memahami manusia berbeda-beda. Ada yang selalu belajar menjaga mulutnya saat bicara, karena ia taku...