Setelah menamatkan pendidikan SMA-nya, Rijal akhirnya diterima di Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Indonesia (UI). Namun, ia sempat dilema untuk melanjutkan pendidikan, lantaran tak tega meninggalkan kedua orang tuanya di kampung. Nasehat-nasehat bapaknya, yang juga seseorang yang paling dikaguminya, menguatkannya untuk melanjutkan pendidikan tersebut.
Sebelum resmi diterima sebagai status mahasiswa sesungguhnya, Rijal ditemani A'Nda, anak Pak Wawan, sahabat baik bapaknya, jalan-jalan mengelilingi kampus UI. Setelah mengitari beberapa tempat di UI, ia akhirnya memilih untuk jalan-jalan ke fakultasnya sendiri. Di sana ia melihat segerombolan mahasiswa yang tengah berlatih puisi. Ia terpikat saat melihat penampilan salah seorang mahasiswi berkerudung merah tengah membacakan puisi Hujan di Bulan Juni, karya Sapardi Djoko Damono. Saat itu, hatinya telah tertawan.
Salah satu program Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, UI adalah membantu para calon mahasiswa baru (Maba) mempersiapkan berkas registrasi penerimaan mahasiswa baru. Selama masih di kampung, Rijal sering dihubungi kakak kelas atas nama Nisa, itulah yang membuat proses registrasinya lancar. Suatu ketika, Rijal bersama teman barunya Shevy menyempatkan diri jalan-jalan ke senat. Di sana, ia bertemu dengan salah satu kakak kelas yang cantik, cerdas, dan baik hati, menjadi kejaran para laki-laki di kampusnya. Namanya Annisa Larasati. Gadis yang sebelumnya telah dilihatnya saat sedang membacakan puisi, dan juga telah membantunya menyiapkan berkas registrasi.
Betapa senang bukan kepalang hati Rijal, takdir memberinya waktu untuk saling berkenalan lebih dalam lagi dengan Laras. Mereka sering bercanda saat bertemu. Saat-saat itulah hati Rijal telah didera dengan perasaan bernama cinta. Namun, ia selalu mengingat nasehat bapaknya untuk sebaiknya memilih antara memendam atau mengungkapkannya. Dari kedua pilihan tersebut, tentu masing-masing punya risiko. Rijal masih bingung, dan memilih untuk membicarakannya pada Pak Ustadz. Dan pada akhirnya, ia memilih untuk memendam saja, dan mencoba menjauhkan diri dari Laras. Ia ikuti saran pak Ustadz itu.
Setelah sekian lama saling memendam, Rijal akhirnya memilih untuk melamar Laras. Saat itu, ia mengabari untuk bertemu dengan perempuan idamannya itu, setelah Laras selesai yudisium. Mereka akhirnya janjian. Namun, Rijal harus menelan pil pahit. Setelah ujian yudisium, Laras malah menghilang dari kehidupannya, tanpa jejak sama sekali.
Waktu terus bergulir. Lima tahun kemudian, takdir akhirnya menyatukan ia dan Laras setelah launching buku ketiganya. Laras menjelaskan kisah kepergiannya itu. Ternyata, selama lima tahun, Laras tinggal di Selandia. Ia harus ikut orang tuanya ke sana, karena saat itu ayahya dituduh teroris. Sejak saat kepergiannya ke Selandia, segala alat komunikasi dan media sosial Laras sekeluarga dibuangnya jauh-jauh, agar tak ada seorang pun yang tahu keberadaan mereka.
Selama lima tahun, Laras menyempatkan kembali ke Indonesia hanya sekadar ingin bertemu Rijal, namun ia cukup kaget melihat cicin yang melingkar di jari manis lelaki yang dicintainya itu. Ternyata, Rijal telah bertunangan dengan Aira, adik A'Nda. Namun, Rijal berencana untuk tetap mengejar wanita yang dicintainya itu. Apakah yang akan terjadi pada Rijal Rafsanjani dan Annisa Larasati?
Dalam buku setebal 200-an halaman ini, Ashar Nurun Ala juga banyak menyelipkan kata-kata inspirasi di antara cerita-ceritanya. Tak hanya sekadar bercerita tentang upaya-upaya Rijal mengejar cintanya, tetapi juga banyak bercerita tentang keluarganya. Tentang ayahnya yang sangat dikaguminya dan kini harus kembali ke rahmatullah.
Untuk tahu kisah lanjutannya, silakan cari bukunya di toko buku terdekat dari tempat tinggal anda. Selamat membaca!

Komentar
Posting Komentar