Langsung ke konten utama

Di Sebuah Restoran

“Orang-orang kelaparan” datang ke restoran dengan perut meronta-ronta. Keluar dari mobil mewah. Berjalan menghampiri lift. Masuk ke dalam kotak besi itu. Memencet tombol dua. Menunggu pintu kotak besi itu terbuka. Berjalan mendekati salah satu meja. Pelayan datang membawakan daftar menu. Mengambil daftar menu. Matanya memelototi gambar-gambar yang menggiyurkan. Menyebutkan nama-nama makanan yang diinginkannya. Sesekali bertanya kepada pelayan. Berbincang dengan “orang kelaparan” yang ada di kiri-kanannya.  Memastikan pesanan. Menunggu pesanan. Makanan yang menggiurkan datang. Mengeluarkan wangi sedap. Menanti disantap. “Orang-orang kelaparan” mengoyak-oyak daging ikan, cumi-cumi, udang, kepiting. Menyendoknya. Memasukkan ke mulutnya. Menuju ke kerongkongannya. Jatuh ke lambungnya. Dan kenyang..... Mereka menjelma menjadi “orang-orang kekenyangan”. Meninggalkan makanan yang sudah tidak bisa lagi dikunyahnya. Lalu menuju ke kasir. Mengeluarkan ATM, yang di dalamnya tersimpan duit. Digeseknya oleh kasir pada alat canggih berbentuk kotak. Kasir memberikannya pada “orang-orang kekenyangan”. Memintanya untuk menekan tombol rahasia. Tit..tit..tit..tit..tit..tit... Transaksi selesai. Duit berkurang. Menuju kembali pada kotak besi. Menekan tombol B. Menghambur keluar. Menuju mobil masing-masing. ---beberapa jam kemudian... Makanan di lambungnya dihancurkan oleh asam lambung, juga enzim-enzim. Menjadikannya lebih halus. Selanjutnya menuju ke usus besar. Lalu ke usus kecil. Dan ke rektum. Orang-orang kekenyangan kini mendapat panggilan alam. Menuju ke toilet. Puffftttt... Toilet itu lalu penuh dengan adonan berwarna kuning. Beraroma busuk. Dan hilang sia-sia!

Kamis 28 Februari 2019.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi buku Tuhan Maha Romantis

Dikisahkan seorang pemuda bernama Rijal Rafsanjani, anak tunggal dari keluarga yang cukup terhormat di kampung halamannya, Bandar Harapan. Ayahnya adalah seorang kepala sekolah di Yayasan An-Nur. Ibunya seorang guru bahasa inggris. Setelah menamatkan pendidikan SMA-nya, Rijal akhirnya diterima di Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Indonesia (UI). Namun, ia sempat dilema untuk melanjutkan pendidikan, lantaran tak tega meninggalkan kedua orang tuanya di kampung. Nasehat-nasehat bapaknya, yang juga seseorang yang paling dikaguminya, menguatkannya untuk melanjutkan pendidikan tersebut. Sebelum resmi diterima sebagai status mahasiswa sesungguhnya, Rijal ditemani A'Nda, anak Pak Wawan, sahabat baik bapaknya, jalan-jalan mengelilingi kampus UI. Setelah mengitari beberapa tempat di UI, ia akhirnya memilih untuk jalan-jalan ke fakultasnya sendiri. Di sana ia melihat segerombolan mahasiswa yang tengah berlatih puisi. Ia terpikat saat melihat penampilan salah seorang mahasisw...

Memahami

Setiap orang selalu ingin dipahami, namun ia sendiri tak mau memahami orang lain. Ya, begitulah kita manusia. Seringkali kalap dalam bersikap. Hingga baru kemudian sadar setelah kita menyakiti hati orang lain. Manusia memang sejatinya tak pernah jauh dari kesalahan, karenanya tidak ada manusia yang sempurna. Kendati, kita selalu punya hati nurani untuk belajar dari kesalahan, bukan? Ya, kita bisa meminimalisir kesalahan itu dengan belajar memahami orang lain. Ada istilah yang mengatakan, kalau mau dipahami, kau harus pahami dulu orang lain. Sifat memahami memang penting dimiliki setiap orang. Coba saja kalau misalnya semua orang  hanya mengandalkan sifat ego dalam menjalani hidup, tentulah dunia akan jauh dari kata damai. Sifat individualistik pun akan melonjak, dan pada akhirnya tidak ada rasa saling tolong-menolong. Interaksi sosial pun tidak terbangun dengan baik. Kemampuan memahami manusia berbeda-beda. Ada yang selalu belajar menjaga mulutnya saat bicara, karena ia taku...

Resensi Buku Breath : The New Science of A Lost Art

Kamu mungkin jarang memperhatikan napasmu. Atau mungkin kamu justru baru menyadari bahwa saat ini dirimu sedang bernapas? Hehehe. Baiklah pada tulisan kali ini, saya tidak hanya membahas beberapa fakta menarik tentang napas kita, tetapi menyajikan rangkuman isi podcast Rianto Astono dalam mereview buku yang berjudul BREATH : The New Science of A Lost Art.  Buku ini ditulis oleh seorang jurnalis bernama James Nestor. Buku setebal 300-an halaman itu berisi riset mendalam mengenai napas, serta pengalaman penulisnya saat  mengalami masalah pernapasan. Tidak hanya itu, berbagai eksperimen cukup ekstrim yang sengaja dilakukan penulis juga turut mengisi buku ini. Beberapa poin pentingnya bisa disimak sebagai berikut : Tahukah kamu? Apapun makanan yang kamu konsumusi, seberapa banyak pun kamu berolahraga, dan bagaimana pun bentuk tubuhmu, semua itu tak ada gunanya jika kamu tidak bernapas dengan benar. Ya! Ini bukanlah sesuatu yang baru, menurut James, di berbagai kebudayaan, cara be...