Langsung ke konten utama

Pilih Yang Mana?

Dua minggu yang lalu, saya rihat dari bermain sosial media (kecuali whatsapp). Akun instagramku bahkan kuhapus. Selain itu, beberapa aplikasi sosial media seperti facebook dan line juga ikut kuhapus pada gawaiku. Mungkin teman-teman bertanya, mengapa hanya aplikasi whatsapp saja yang bertahan? Karena segala informasi  yang penting hanya ada di situ, tempat saya bisa melihat info seputar mata kuliah dan penugasan redaksi.

Saat itu, saya sengaja menarik diri dari media sosial. Semula  berawal saat saya  membaca kolom Prof Anwar Arifin yang diterbitkan di Koran Identitas Edisi Januari lalu. Inti dari keseluruhan yang bisa saya tangkap dari tulisan tersebut bahwa ternyata sosial media dapat menurunkan minat baca kita. Padahal membaca sangatlah penting untuk kita budayakan dalam kehidupan sehari-hari. Telah kita ketahui bahwa membaca dapat meningkatkan wawasan kita, dan tentu saja mengasah cara berpikir. Selain itu, membaca juga dapat memperbanyak pembendaharaan kata, sehingga merupakan suatu hal yang diwajibkan oleh penulis.

Mengapa bermain sosmed dapat menurunkan minat baca kita? Mari kita perhatikan aktivitas keseharian orang-orang di sekeliling kita atau mungkin aktivitas kita juga. Jika di sebuah meja terdapat buku dan gawai atau hape, Tidak bisa dipungkiri bahwa kebanyakan kita akan lebih memilih mengambil gawai daripada buku. Pada gawai, kita lebih asyik berseluncur di dunia maya hingga berjam-jam. Ironisnya, kita bahkan lebih asyik membaca atau mengomentari status teman-teman yang tidak begitu penting. Dan pada akhirnya, kita akan mulai meninggalkan bacaan-bacaan yang berharga untuk membentuk pola pikir dan karakter kita. Tetapi yah, begitulah kita di jaman pesatnya perkembangan teknologi ini.

Lanjut, dari opini Prof Anno, diterangkan bahwa warga Negara Indonesia hanya memiliki minat baca 0-1 buku per tahunnya, data itu diperoleh dari lembaga PBB, United Nations Educational Scientific and Cultural Organitation (UNESCO). Menurut Anwar Arifin dalam tulisannya berjudul "Rendahnya Budaya Literasi Kita", bahkan satu buku dibaca 3-4 orang per tahunnya. Kita telah ketinggalan jauh oleh negara lain. Saya tercengang melihat data tersebut. Sebegitu menyedihkannya kah kita?


Pertanyaannya, bisakah kita membudayakan membaca setiap hari? Setiap kita memiliki waktu 24 jam dalam satu hari, tidak ada yang lebih juga kurang. Singkatya, waktu kita sama. Tetapi mengapa ada beberapa orang di antara kita yang meluangkan waktunya untuk membaca? Sebenarnya ini tergantung bagaimana anda memprioritaskannya! apakah anda lebih memilih  membaca status teman anda di dunia maya atau membaca buku di depan anda. Ya, itu terserah anda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi buku Tuhan Maha Romantis

Dikisahkan seorang pemuda bernama Rijal Rafsanjani, anak tunggal dari keluarga yang cukup terhormat di kampung halamannya, Bandar Harapan. Ayahnya adalah seorang kepala sekolah di Yayasan An-Nur. Ibunya seorang guru bahasa inggris. Setelah menamatkan pendidikan SMA-nya, Rijal akhirnya diterima di Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Indonesia (UI). Namun, ia sempat dilema untuk melanjutkan pendidikan, lantaran tak tega meninggalkan kedua orang tuanya di kampung. Nasehat-nasehat bapaknya, yang juga seseorang yang paling dikaguminya, menguatkannya untuk melanjutkan pendidikan tersebut. Sebelum resmi diterima sebagai status mahasiswa sesungguhnya, Rijal ditemani A'Nda, anak Pak Wawan, sahabat baik bapaknya, jalan-jalan mengelilingi kampus UI. Setelah mengitari beberapa tempat di UI, ia akhirnya memilih untuk jalan-jalan ke fakultasnya sendiri. Di sana ia melihat segerombolan mahasiswa yang tengah berlatih puisi. Ia terpikat saat melihat penampilan salah seorang mahasisw...

Memahami

Setiap orang selalu ingin dipahami, namun ia sendiri tak mau memahami orang lain. Ya, begitulah kita manusia. Seringkali kalap dalam bersikap. Hingga baru kemudian sadar setelah kita menyakiti hati orang lain. Manusia memang sejatinya tak pernah jauh dari kesalahan, karenanya tidak ada manusia yang sempurna. Kendati, kita selalu punya hati nurani untuk belajar dari kesalahan, bukan? Ya, kita bisa meminimalisir kesalahan itu dengan belajar memahami orang lain. Ada istilah yang mengatakan, kalau mau dipahami, kau harus pahami dulu orang lain. Sifat memahami memang penting dimiliki setiap orang. Coba saja kalau misalnya semua orang  hanya mengandalkan sifat ego dalam menjalani hidup, tentulah dunia akan jauh dari kata damai. Sifat individualistik pun akan melonjak, dan pada akhirnya tidak ada rasa saling tolong-menolong. Interaksi sosial pun tidak terbangun dengan baik. Kemampuan memahami manusia berbeda-beda. Ada yang selalu belajar menjaga mulutnya saat bicara, karena ia taku...

Resensi Buku Breath : The New Science of A Lost Art

Kamu mungkin jarang memperhatikan napasmu. Atau mungkin kamu justru baru menyadari bahwa saat ini dirimu sedang bernapas? Hehehe. Baiklah pada tulisan kali ini, saya tidak hanya membahas beberapa fakta menarik tentang napas kita, tetapi menyajikan rangkuman isi podcast Rianto Astono dalam mereview buku yang berjudul BREATH : The New Science of A Lost Art.  Buku ini ditulis oleh seorang jurnalis bernama James Nestor. Buku setebal 300-an halaman itu berisi riset mendalam mengenai napas, serta pengalaman penulisnya saat  mengalami masalah pernapasan. Tidak hanya itu, berbagai eksperimen cukup ekstrim yang sengaja dilakukan penulis juga turut mengisi buku ini. Beberapa poin pentingnya bisa disimak sebagai berikut : Tahukah kamu? Apapun makanan yang kamu konsumusi, seberapa banyak pun kamu berolahraga, dan bagaimana pun bentuk tubuhmu, semua itu tak ada gunanya jika kamu tidak bernapas dengan benar. Ya! Ini bukanlah sesuatu yang baru, menurut James, di berbagai kebudayaan, cara be...