Langsung ke konten utama

Postingan

Pilih Yang Mana?

Dua minggu yang lalu, saya rihat dari bermain sosial media (kecuali whatsapp). Akun instagramku bahkan kuhapus. Selain itu, beberapa aplikasi sosial media seperti facebook dan line juga ikut kuhapus pada gawaiku. Mungkin teman-teman bertanya, mengapa hanya aplikasi whatsapp saja yang bertahan? Karena segala informasi  yang penting hanya ada di situ, tempat saya bisa melihat info seputar mata kuliah dan penugasan redaksi. Saat itu, saya sengaja menarik diri dari media sosial. Semula  berawal saat saya  membaca kolom Prof Anwar Arifin yang diterbitkan di Koran Identitas Edisi Januari lalu. Inti dari keseluruhan yang bisa saya tangkap dari tulisan tersebut bahwa ternyata sosial media dapat menurunkan minat baca kita. Padahal membaca sangatlah penting untuk kita budayakan dalam kehidupan sehari-hari. Telah kita ketahui bahwa membaca dapat meningkatkan wawasan kita, dan tentu saja mengasah cara berpikir. Selain itu, membaca juga dapat memperbanyak pembendaharaan kata, sehing...

Bukan (hanya) Rindu yang Berat, Tetapi...

“Jangan rindu, berat! kamu gak akan kuat, biar aku saja” kata Dilan, Sepenggal kalimat yang dilontarkan Iqbal Ramadhan, (pemeran Dilan) dalam film Dilan 1990 yang lagi booming di sejumlah bioskop saat ini, mungkin ada benarnya. Setali tiga uang dengan menunggu. Rindu dan menunggu keduanya merupakan pekerjaan berat meski tak membutuhkan tenaga ekstra. Sekarang, ada lagi satu kata yang tidak sekadar berat tapi juga menakutkan. Di dunia jurnalistik, kata ini tidaklah asing. “Deadline”, semua yang terlibat di penerbitan media pasti mengenalnya. Death berarti mati dan Line berarti garis. Deadline sendiri di dunia jurnalistik dimaknai sebagai batas akhir pemasukan naskah. Melewatinya berarti mati. Jadi, melanggarnya akan dimaki-maki oleh pimpinan media. Pernah suatu ketika kami didamprat habis-habisan oleh Koordinator Liputan (Korlip) gara-gara melanggar  deadline . Pelanggaran yang sebenarnya tidak bisa dikenakan ke saya, tetapi karena kerja kolektif, terpaksa harus kuter...

Yang Tak Terncana, Yang Terjadi

Setelah hampir dua tahun saya bergelut di PK Identitas, ini yang pertama kalinya saya ikut kunjungan KKN. Kunjungan kali ini juga hanya mendatangi satu posko saja. Posko itu bertempat di Kabupaten Pinrang. Tepatnya di kecamatan Duampanua. Tempat kawan saya,  Musthain Asbar Hamsah  mengabdi.       Karena waktunya sudah beberapa minggu lalu direncakan dan selalu batal, kemarin akhirnya jadi juga setelah keberangkatan yang mepet (tanpa persiapan). Ini karena ulah si  Muhammad Abdul , teman seangkatan saya di Identitas yang menjanjikan kedatangannya kemarin ke Pinrang, tempat ia tumbuh besar. Ibunya sudah mempersiapkan kedatangan kami kemarin, sementara membatalkan acara pentingnya. Wah, rasanya tak enak hati ketika tak datang bertandang ke rumah Hj Syamsiah, ibunya Abdul. Saya dan  Sri Hadriana , sahabat saya di Identitas akhirnya memutuskan untuk mengerti keadaan. Bagaimanapun, kami harus berangkat malam itu juga. Sebenarnya beberapa kr...

Membalas "Dendam"

Pertemuan tak terencana. Begitulah saya menyebut peristiwa beberapa jam lalu. Setelah ribuan menit meredam rindu untuk berjumpa. Akhirnya, sang penguasa waktu menakdirkan kita bersua kembali. Hari ini kita membalas dendam pada rindu yang terpendam. Aduhaii. Hehehe Gara-gara potret Inci yang tak kunjung selesai, Sri kini mengingkar janji untuk pulang ke kampung hari ini. Sedangkan Abdul si PHP begitu kami menyebutnya meluangkan waktu di sela kesibukannya. Ia turut berpartisipasi membantu terselasinya kendala kami dalam mengerjakan tugas redaksi. Sehab is dari potret gedung asrama siswa, yang bukan main sulitnya (kata Inci) kami berencana untuk beralih ke sesi potret lainnya. Di tengah perjalanan, saya melihat sekumpulan siswa berpakaian putih abu-abu bergerombol mengelilingi penjual pentolan yang mangkal di halte samping asrama. Saya juga tergoda bau sedap si bulat aneka rasa itu. Akhirnya kudekatilah si penjual pentolan dan kuajak teman2 untuk singgah melahap si bulat. ...

Belajar Jurnalisme Sastrawi di Negeri Istana

Mengikuti Pelatihan Jurnalistik Tingkat  Lanjut Nasional (PJTLN) yang ditaja Lembaga Pers Bahana mahasiswa, Universitas Riau (UR) memberikan saya kesempatan mengunjungi Kabupaten Siak, salah satu kabupaten yang ada di Pekanbaru, Kepulauan Riau. Minggu 16 Juli 2017. Perjalanan dari Makassar ke Pekanbaru memakan waktu seharian. Dari bandara Sultan Hasanuddin Makassar, saya transit terlebih dahulu selama dua jam di Bandara Soekarno Hatta Jakarta, lalu melanjutkan penerbangan ke Bandara Sultan Syarif Kasim Pekanbaru. Sekitar satu jam berlalu, saya akhirnya bertemu dengan salah seorang panitia dan teman dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Solidaritas, UIN Sunan Ampel Surabaya. Beberapa menit berlalu, mobil yang membawa kami akhirnya tiba di depan sebuah asrama putri. Setelah turun dari mobil, saya disambut oleh beberapa teman perempuan dari LPM se-Indonesia. Keesokan paginya, bus UR menjemput kami untuk segera menuju kampus satu Universitas Riau yang terletak di Kecamatan ...

Resensi Buku Ayat-Ayat Cinta 2

Novel ayat-ayat cinta 2 (AAC 2) adalah karya Habiburrahman El Shirazy yang lebih akrab disapa Kang Abik. Dalam karya fiksinya itu. Ia mengisahkan perjalanan hidup Fahri seorang tokoh utama dalam novel AAC 2 yang merindukan istrinya Aisha.             Novel ini merupakan novel lanjutan dari Ayat-ayat Cinta (edisi satu) dengan menggunakan Universitas Edinburg sebagai pembuka cerita yang dituliskan Kang Abik. di Universitas Edinburg, Fahri (tokoh utama) menggantikan salah satu dosen pengajar Prof Charlotte yang tidak sempat masuk karena harus cuci darah.             Di Edinburg, Fahri tinggal di kawasan Stoneyhill Grove, sebuah komplek berbentuk L yang hanya terdiri dari beberapa rumah saja. Di sana, Ia tinggal bersama paman Hulusi  yang juga merupakan Asisten rumah tangganya.             Di kawasan tempat...

Resensi Buku The Architecture of Love

            Apa yang terlintas di pikiran kita ketika mendengar kota new york? Tentu saja kota yang memiliki pesona sendiri, seperti yang dikatakan Ika Natassa dalam novelnya, bahwa New York merupakan salah satu kota yang sebagian warganya tergolong sebagai imigran.             Dalam Novelnya “The Architecture Of Love”. Ika Natassa salah satu penulis novel best seller, mengajak kita menjelajahi New York. Seperti dalam bukunya tersebut, ia menjadikan New York Sebagai setting tempat yang pas untuk pertemuan kedua pemeran utama.             Novel ke-8 Ika Natassa bercerita tentang Raia seorang penulis yang berusaha mencari inspirasi menulis di New York. Ia kehilangan inspirasi menulis setelah perceraian dengan suaminya Alam. Ia bercerai bukan karna kesuksesan Raia Risjad yang terlalu sibuk dengan gelarnya sebagai pen...