Langsung ke konten utama

Membalas "Dendam"


Pertemuan tak terencana. Begitulah saya menyebut peristiwa beberapa jam lalu. Setelah ribuan menit meredam rindu untuk berjumpa. Akhirnya, sang penguasa waktu menakdirkan kita bersua kembali. Hari ini kita membalas dendam pada rindu yang terpendam. Aduhaii. Hehehe
Gara-gara potret Inci yang tak kunjung selesai, Sri kini mengingkar janji untuk pulang ke kampung hari ini. Sedangkan Abdul si PHP begitu kami menyebutnya meluangkan waktu di sela kesibukannya. Ia turut berpartisipasi membantu terselasinya kendala kami dalam mengerjakan tugas redaksi.



Sehabis dari potret gedung asrama siswa, yang bukan main sulitnya (kata Inci) kami berencana untuk beralih ke sesi potret lainnya. Di tengah perjalanan, saya melihat sekumpulan siswa berpakaian putih abu-abu bergerombol mengelilingi penjual pentolan yang mangkal di halte samping asrama. Saya juga tergoda bau sedap si bulat aneka rasa itu. Akhirnya kudekatilah si penjual pentolan dan kuajak teman2 untuk singgah melahap si bulat. "Haahh..pedis," begitu kata Inci setelah gigitan terakhir pada bakso kaget. Bukan main pedisnya. Bayangkan saja, bakso yang dicampur dengan irisan cabai rawit. *kebanyakan dari kita pasti pernah mencobanya.

Karena si penjual pentolan tak menyediakan air minum, kami memutuskan kembali ke asrama untuk membeli air minum di kantin, meredakan pedisnya bakso kaget. Rese banget si penjualnya, sudah tahu jual bakso super pedis, malah nggak jual minuman. Hahaha

Setelah berjalan beberapa menit, sampailah kami di tempat tujuan. Si Inci lalu menawarkan kami es lilin beragam rasa. Inci memang teman saya yang tak bisa tahan akan godaan minuman dingin. "Saya rasa Susu, ambil saja. Saya yang traktir," kata Inci. Wahh.. Senangnya. Dapat anugrah (anu gratis-kata orang Makassar) nih. Wkwkwk.


Tenanglah sudah perjalanan es lilin yang segar itu ke dalam lambung kami. Ia telah melalui kerongkongan yang sedari tadi meronta, meminta disegarkan. Tiba-tiba saja datang si Ima, kawan seperjuangan kami kala reporter dulu. Seperti biasanya, ketika bertemu dengan kawan, kami langsung berteriak sekeras mungkin, lalu berpelukan, kecuali si Abdul, dia takut pada murabbinya (kata dia). Wkwk.


Perbincangan seputar persahabatan kini dimulai. Sehabis berbincang-bincang, kami memilih selfie seperti anak alay lainnya. Sesekali boomerang, untuk sedikit eksis di instagram.


Setelah menghabiskan waktu sekiranya setengah jam. Kami akhirnya berpisah dengan Ima dan kembali melanjutkan kegiatan potret ke hutan dekat Fakultas Hukum.


Halaaaa... Terima kasih kebersamaannya hari ini gaes. Bagiku, Kalian sempurna dengan kegilaan kalian masing-masing. Semoga Allah senantiasa menjaga persahabatan kita.


tulisan ini bermula dari status di Facebook

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi buku Tuhan Maha Romantis

Dikisahkan seorang pemuda bernama Rijal Rafsanjani, anak tunggal dari keluarga yang cukup terhormat di kampung halamannya, Bandar Harapan. Ayahnya adalah seorang kepala sekolah di Yayasan An-Nur. Ibunya seorang guru bahasa inggris. Setelah menamatkan pendidikan SMA-nya, Rijal akhirnya diterima di Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Indonesia (UI). Namun, ia sempat dilema untuk melanjutkan pendidikan, lantaran tak tega meninggalkan kedua orang tuanya di kampung. Nasehat-nasehat bapaknya, yang juga seseorang yang paling dikaguminya, menguatkannya untuk melanjutkan pendidikan tersebut. Sebelum resmi diterima sebagai status mahasiswa sesungguhnya, Rijal ditemani A'Nda, anak Pak Wawan, sahabat baik bapaknya, jalan-jalan mengelilingi kampus UI. Setelah mengitari beberapa tempat di UI, ia akhirnya memilih untuk jalan-jalan ke fakultasnya sendiri. Di sana ia melihat segerombolan mahasiswa yang tengah berlatih puisi. Ia terpikat saat melihat penampilan salah seorang mahasisw...

Memahami

Setiap orang selalu ingin dipahami, namun ia sendiri tak mau memahami orang lain. Ya, begitulah kita manusia. Seringkali kalap dalam bersikap. Hingga baru kemudian sadar setelah kita menyakiti hati orang lain. Manusia memang sejatinya tak pernah jauh dari kesalahan, karenanya tidak ada manusia yang sempurna. Kendati, kita selalu punya hati nurani untuk belajar dari kesalahan, bukan? Ya, kita bisa meminimalisir kesalahan itu dengan belajar memahami orang lain. Ada istilah yang mengatakan, kalau mau dipahami, kau harus pahami dulu orang lain. Sifat memahami memang penting dimiliki setiap orang. Coba saja kalau misalnya semua orang  hanya mengandalkan sifat ego dalam menjalani hidup, tentulah dunia akan jauh dari kata damai. Sifat individualistik pun akan melonjak, dan pada akhirnya tidak ada rasa saling tolong-menolong. Interaksi sosial pun tidak terbangun dengan baik. Kemampuan memahami manusia berbeda-beda. Ada yang selalu belajar menjaga mulutnya saat bicara, karena ia taku...

Resensi Buku Breath : The New Science of A Lost Art

Kamu mungkin jarang memperhatikan napasmu. Atau mungkin kamu justru baru menyadari bahwa saat ini dirimu sedang bernapas? Hehehe. Baiklah pada tulisan kali ini, saya tidak hanya membahas beberapa fakta menarik tentang napas kita, tetapi menyajikan rangkuman isi podcast Rianto Astono dalam mereview buku yang berjudul BREATH : The New Science of A Lost Art.  Buku ini ditulis oleh seorang jurnalis bernama James Nestor. Buku setebal 300-an halaman itu berisi riset mendalam mengenai napas, serta pengalaman penulisnya saat  mengalami masalah pernapasan. Tidak hanya itu, berbagai eksperimen cukup ekstrim yang sengaja dilakukan penulis juga turut mengisi buku ini. Beberapa poin pentingnya bisa disimak sebagai berikut : Tahukah kamu? Apapun makanan yang kamu konsumusi, seberapa banyak pun kamu berolahraga, dan bagaimana pun bentuk tubuhmu, semua itu tak ada gunanya jika kamu tidak bernapas dengan benar. Ya! Ini bukanlah sesuatu yang baru, menurut James, di berbagai kebudayaan, cara be...