Langsung ke konten utama

Resensi Buku Breath : The New Science of A Lost Art

Kamu mungkin jarang memperhatikan napasmu. Atau mungkin kamu justru baru menyadari bahwa saat ini dirimu sedang bernapas? Hehehe. Baiklah pada tulisan kali ini, saya tidak hanya membahas beberapa fakta menarik tentang napas kita, tetapi menyajikan rangkuman isi podcast Rianto Astono dalam mereview buku yang berjudul BREATH : The New Science of A Lost Art. 

Buku ini ditulis oleh seorang jurnalis bernama James Nestor. Buku setebal 300-an halaman itu berisi riset mendalam mengenai napas, serta pengalaman penulisnya saat  mengalami masalah pernapasan. Tidak hanya itu, berbagai eksperimen cukup ekstrim yang sengaja dilakukan penulis juga turut mengisi buku ini. Beberapa poin pentingnya bisa disimak sebagai berikut :

Tahukah kamu? Apapun makanan yang kamu konsumusi, seberapa banyak pun kamu berolahraga, dan bagaimana pun bentuk tubuhmu, semua itu tak ada gunanya jika kamu tidak bernapas dengan benar. Ya! Ini bukanlah sesuatu yang baru, menurut James, di berbagai kebudayaan, cara bernapas yang baik justru telah dipelajari sejak ribuan tahun silam. Hanya saja hal ini memang kerap dilupakan. 

Kamu pasti bertanya-tanya, lalu bagaimana cara bernapas yang baik dan sehat? Jawabannya sangat sederhana : bernapaslah hanya dengan menggunakan hidungmu! Dari riset yang dilakukan, ternyata tidak semua orang bernapas melalui hidungnya. Sebanyak 90% manusia menggunakan mulutnya untuk bernapas. Hal ini biasa disebut mouth breather.  

James mengaitkan kebiasaan bernapas dengan mulut ini adalah bagian dari evolusi manusia akibat dari kebiasaan makan dan mengunyah yang berubah dari waktu ke waktu, sehingga struktur rahangnya semakin memanjang dan mengecil. Selain itu, manusia juga merupakan satu-satunya spesies dengan susunan gigi paling berantakan dibandingkan spesies lain seperti hewan. 

Selain itu, manusia pula adalah satu-satunya spesies yang punya penyakit bernama sleep apnea. Dan penyakit ini kerap berujung pada kematian saat tertidur. Jadi bernapas lewat mulut adalah cara untuk mengkonsumsi udara yang sangat buruk bagi kesehatan. 

Untuk membuktikan ini, penulis bahkan rela melakukan eksperimen cukup ekstrim. Ia memasukkan kawat kecil ke dalam rongga hidungnya agar ia hanya bisa bernapas dengan mulut selama 10 hari. Hasil dari eksperimen itu berujung pada tekanan darah yang semakin naik, merasa tidak berenergi, tidur mengorok hingga berjam-jam, dan berbagai kekacauan lain dalam tubuhnya. 

Setelah itu ia juga melakukan tes lain dengan memplester bibirnya sehingga ia hanya bernapas melalui hidungnya saja. Hasilnya, dalam sekejap ia merasa jauh lebih baik. Dalam 3 hari, durasi mendengkurnya menurun dari 4 jam menjadi hanya 10 menit saja.

Secara ilmiah dari berbagai studi dan kajian, mouth breathing atau bernapas melalui mulut dapat memicu banyak hal buruk pada tubuh kita. Mulai dari masalah paru-paru, masalah gigi, gangguan tidur, hipertensi, diabetes, gangguan jantung, disfungsi ereksi hingga kanker. 

Jadi kesimpulannya bernapas yang baik adalah kunci hidup sehat. Bernapas dengan hidung akan membuat udara tersaring, dilembabkan dan dipanaskan oleh rongga hidung . Meskipun bernapas sesuatu yang refleks terjadi pada tubuh kita, kita juga perlu untuk mengaturnya sedemikian rupa agar dapat bekerja dengan baik dan maksimal, sehingga membentuk kebiasaan bernapas yang lebih sehat.

Dalam buku Breath, penulis menceritakan petualangannya untuk mempelajari seni pernapasan yang dilakukan di berbagai negara. Tak hanya itu, bernapas dengan benar dapat menyembuhkan tak hanya penyakit fisik, tetapi juga spiritual dan penyakit mental.  

Hingga pada akhirnya penulis membagikan teknik bernapas paling optimal setelah serangkaian eksperimen yang dilakukannya, yaitu 5 setengah detik menarik napas, dan 5 setengah detik menghembuskannya. Semuanya melalui hidung dengan napas dari perut yang akan mengembangkan diafgragma, sehingga paru-paru dapat menyerapnya secara optimal. Dan ingat, bernapaslah dengan perut bukan dengan dada!

Semoga tulisan ini bermanfaat ya. Kalian juga bisa mendengarkan isi podcast Rianto Astono, klik link ini : 

https://youtu.be/MV6xseyE-7Y

Komentar

  1. Justru baru ini kamu baru menyadari bahwa saat ini dirimu sedang bernapas? Kata yang tak asing untuk saya!

    BalasHapus
  2. Hahaha. Thank you sudah dibaca :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi buku Tuhan Maha Romantis

Dikisahkan seorang pemuda bernama Rijal Rafsanjani, anak tunggal dari keluarga yang cukup terhormat di kampung halamannya, Bandar Harapan. Ayahnya adalah seorang kepala sekolah di Yayasan An-Nur. Ibunya seorang guru bahasa inggris. Setelah menamatkan pendidikan SMA-nya, Rijal akhirnya diterima di Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Indonesia (UI). Namun, ia sempat dilema untuk melanjutkan pendidikan, lantaran tak tega meninggalkan kedua orang tuanya di kampung. Nasehat-nasehat bapaknya, yang juga seseorang yang paling dikaguminya, menguatkannya untuk melanjutkan pendidikan tersebut. Sebelum resmi diterima sebagai status mahasiswa sesungguhnya, Rijal ditemani A'Nda, anak Pak Wawan, sahabat baik bapaknya, jalan-jalan mengelilingi kampus UI. Setelah mengitari beberapa tempat di UI, ia akhirnya memilih untuk jalan-jalan ke fakultasnya sendiri. Di sana ia melihat segerombolan mahasiswa yang tengah berlatih puisi. Ia terpikat saat melihat penampilan salah seorang mahasisw...

Memahami

Setiap orang selalu ingin dipahami, namun ia sendiri tak mau memahami orang lain. Ya, begitulah kita manusia. Seringkali kalap dalam bersikap. Hingga baru kemudian sadar setelah kita menyakiti hati orang lain. Manusia memang sejatinya tak pernah jauh dari kesalahan, karenanya tidak ada manusia yang sempurna. Kendati, kita selalu punya hati nurani untuk belajar dari kesalahan, bukan? Ya, kita bisa meminimalisir kesalahan itu dengan belajar memahami orang lain. Ada istilah yang mengatakan, kalau mau dipahami, kau harus pahami dulu orang lain. Sifat memahami memang penting dimiliki setiap orang. Coba saja kalau misalnya semua orang  hanya mengandalkan sifat ego dalam menjalani hidup, tentulah dunia akan jauh dari kata damai. Sifat individualistik pun akan melonjak, dan pada akhirnya tidak ada rasa saling tolong-menolong. Interaksi sosial pun tidak terbangun dengan baik. Kemampuan memahami manusia berbeda-beda. Ada yang selalu belajar menjaga mulutnya saat bicara, karena ia taku...